Iridescent



#1 Black and White
Aku bersamanya, ya, bahagia
Namun entah mengapa hatiku terperanjat dalam sebuah penjara
Ku ingin lari
Dan terhempas bebas
Senja itu ku terlepas sepenuhnyaa dari sana
Dengan penuh luka dan darah
Hingga pada akhirnya ku temukan secercah cahaya
Di sana,
Di mata mu…


#2 Iridescent
Hai, aku mahasiswi biasa yang duduk di semester 4 salah satu universitas terbaik. Panggil aku Vinns, singkat kata, cukup Vinns. Vinns Clareta. Aku mahasiswi Fakultas Psikologi yang tengah pontang-panting memikirkan kesehatan mental seseorang. Seseorang itu kini jatuh bangun mempertahankan rasionalitasnya karena kebodohan akan cinta, dan kini tengah dilanda anxiety karena hubungan percintaannya yang kandas akibat toxic relationship. Siapakah orang itu? Ya, aku. Seorang mahasiswa psikologi yang dilanda paradoks bukan?
            Hubungan yang telah dilaluiku tergolong toxic dan lebih memberikan banyak sakit hati ketimbang kebahagiaan. Tapi aku membela diriku dengan alasan “dia kan mencintaiku, aku harus menerima dia apa adanya”. Dan ternyata itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Sebut saja cabut kelas 3 kali demi menemui dia dan menyusul kerumahnya, pulang jam 1 malam karena menemani dia yang sedang bad mood, berbohong kepada teman-teman untuk tidak ikut nongkrong bareng padahal aku kencan dengan si cowok ini, mengalah dan dihakimi selama 3 jam karena kesalahanku tidak menunggunya di depan pintu, bahkan model celanaku pun dikomentari oleh dia karena menurutnya tidak pas. Toxic kah? Tentu saja iya. Tapi aku baru menyadarinya setelah lepas darinya. Karena ketika kamu masih bersamanya, kau benar-benar buta…
            Aku bukan tipe orang yang nangis seminggu penuh hingga mata membengkak luar biasa. Tapi setitik emosi dalam hatiku mengatakan, akan ada seseorang yang lebih baik, jauh lebih baik ketimbang ia. Dan ya, entah mengapa tiba-tiba ku mengenalnya. Pangeran berkuda putih dengan senapan di tangan kirinya. Seraya mengulurkan tangan kanan nya kepadaku memberi bantuan agar terlepas dari cengkraman penyandera. Aku menariknya. Dan sejak itu pun aku terlepas sepenuhnya dari sang penyandera
                        ***
            Aku membuka handphone ku setelah masuk ke kelas siang itu. “Hai, kamu yang tadi ya? Oh iya, kalo lupa, namaku William Davis. Panggil aku Vis. Kan kamu Vinn hahaha nah aku Vis”, loh dia benar-benar add line ku, pikirku dalam hati. “Oh hey, Vis ahaha Vis sounds like Fish you know. Ikan!” aku membalasnya dengan sedikit bercanda. “Hahaha so funny! Gimana kamu kuliahnya? Aku dikit lagi skripsi. Ya tau lah skripsi tuh astaga, definisi melelahkan”. Singkat cerita, Davis adalah pria yang ramah, pemberi advice yang cukup baik, humoris, rasional, bahkan kebanyakan orang menilainya sangat flawless ditambah parasnya yang menurutku mendekati sempurna. Apalagi rambut ash khas Davis yang meningkatkan ketampanan 1000x lipat. Wanita mana yang tidak terpesona? Hingga saat ini aku sibuk mencari kekurangannya meski belum ketemu ahaha. Hmm mungkin ada, aku dan dia berjauhan letaknyan. Aku di Jakarta, dan dia di Bali menjalani sekolah pilot, Bali Flight Aerospace Academy. Keluarganya memiliki rumah di Jakarta, dan tiap minggu ia pulang ke Jakarta.


            Hari-hari kami cukup bahagia, tiap malam kami bercerita tentang hari penat yang dilalui satu sama lain. Bahkan aku dan dia bercerita tentang mantan satu sama lain. Dia mengingatkan ku pada sahabat lama yang entah menghilang kemana sekarang.
“Vinns, lo goodlistener banget ya. Gue seneng cerita sama lo hahah” ucapnya
“Oh iya ya? Good to know that. I just want to see you happy. Just tell me everything, gue gamau lo mendem amarah dan kekesalan lo gitu aja” jawabku
“Ok aku mau tanya sesuatu sama kamu. Ini serius” ucapnya tiba-tiba, dengan diksi yang berubah menjadi aku kamu, cewe mana yang ga baper
“Iya, apa?”
“Jadi, kamu tim bubur diaduk apa ga diaduk?”
“……. Ha?”
“HAHAHA”
“HAHAHA apasihhhh!! Kesel” aku yang semula degdegan jadi kesel dibuatnya. Ya, Davis selalu berhasil membuatku tertawa. Hari hariku selalu bahagia karenanya, meski hanya melalui smartphone tanpa bertatap muka langsung. Entah kapan aku akan bertemu dengannya. Jual mahal, aku ga akan mengajaknya duluan. Ucap ego kecilku.
“Vinns kali ini aku beneran nanya nih. Besok sabtu kamu sibuk ga?”
“Mmmmm iya sih aku ada rapat BEM sampe sore huhuhu dari pagi” ucapku dengan nada sedih
“Yah sibuk?”
“Hmmm gitu deh”
“Padahal mau gua ajak main kalo kamu ga sibuk” ucap Davis
“Ohh kamu mau ke Jakarta ya” saat itu pikiran dan imajinasiku telah kemana-mana, membayangkan kita akhirnya bertemu setelah saling bertukar cerita selama dua bulan. Tapi entah kenapa, suka kesel ama orang kaya gini, kenapa ga directly ngomong ke kita as simply as “yuk kita jalan malemnya” dan berhenti gitu aja tanpa kejelasan selanjutnya. Dan akhirnya di hari Sabtu setelah rapat BEM, aku pergi ke salon. Jaga-jaga kalau Davis mengajakku pergi.

“Hey, Vinns, lo ga pulang?” ucap Darren, ketua BEM fakultasku
“Hey, Boss, aku mau pergi ke salon nih hahah” ucapku sambil tersenyum
“Mau ku anter? Di Sency kan? Aku juga mau kesana”. Dan ya, akhirnya aku pergi ke salon bersama sang Ketua BEM yang tampan tak tertahankan.
“By the way, Vinns, lo pasti mau ketemu cowok ya?? Iya ga hahaha” Darren tiba-tiba asal bunyi sembari menyalakan mesin mobil
“WAIT. Kok lo tau?” aku setengah teriak dengan mengernyitkan dahi
“Ya iya lah, gelagatnya beda. Lo biasanya balik rapat langsung tidur, mana ada sekarang nyalon. Yang mana sih cowoknya?? Kalo sampe lo diapa-apain, telpon gue. Gue bakal maju duluan” ya, sang Ketua BEM bersabda
“Eh serem banget si Bapak huhu. Baik kok dia, tenang aja. Kenapa nih lo mau ngasih petuah?” ucapku sambil tertawa
“Vinns, gini, sebenernya gue ga mau ngeliat lo sakit hati lagi karena hubungan sebelumnya. Intinya, tolong majuin rasionalitas lo. Lo cewe yang baik, ga pantes dijahatin sama cowo. Pertama, kalo dia udah berbohong, langsung lupain aja dia. Based dalam hubungan adalah trust, kalo dia berbohong dan gabisa dipercaya, ya buat apa? Apalagi kalo dia gabisa pegang omongan. Skip. Kedua, kalo dia pergi sama cewe lain tapi hilang dan ga ngabarin lo, asli ini bahaya banget. Since gue tau betul lo cemburuan Vinns. Jangan denial sama kenyataan” Davis mulai memberi petuah sebagai kakak-kakak-an yang baik
“Ok…eyy.. terus lanjutannya?” ucapku sambil menikmati kemacetan
“Yaudah itu dulu. Nanti kalo ada apa-apa, langsung cerita sama gue” Tatapan Darren melalui mata abu-abu menusuk dalam
“Iya kakak kampus kuuuu!”
Tak terasa sudah sampai di Mall, kami berpisah di depan salon. Ia hendak mencari sepatu untuk hadiah ibunya. Selama creambath, aku menunggu chat Davis yang tidak membalas pesan sejak jam 2 siang. Aku khawatir apakah dia baik-baik saja.


#3 The Hidden Color
6.00 pm
“Darren, aku pulang duluan ya” sent by line.
7.00 pm
Aku sudah sampai rumah, menunggu kepastian kelanjutan first date ku dengan Davis. Jujur aku yakin dia pasti sudah sampai dirumah, karena dia udah mendarat di Bandara pukul 9 pagi. Gamungkin kalau belum sampai. Aku masih berusaha positive thinking, mungkin jam 8? Sembari menunggunya membalas, aku mengecat kuku agar lebih cantik.
Sembari menunggu kuku kering, aku iseng buka Insagram. Dan… aku terbelalak melihat story Insagram Davis yang berisikan foto dirinya beserta 2 wanita di sebuah fancy restaurant. Aku terpaku, tidak paham harus apa. Yang aku tahu adalah, harusnya aku yang berasa disana…
Aku terduduk di sudut ruangan kamarku. Entah harus berbuat apa. Dadaku terasa sakit dan seketika hampa..

10.00 pm
*Incoming call from Darren*
Oh my God, I thought it was D for Davis
“Hey” ucapku duluan
“Wait… Hey, are you okay?” suara Darren terdengar khawatir
“No… Dia seharian ilang, Ren, dari jam 2 sampe jam 8 malem ini gila ga sih dan lo tau apa? Dia jalan sama cewe 2 biji di Skyave. Dan gue ditinggal ga dikabarin” Aku menangis. Entah Darren mendengar tangisanku atau tidak
“Tahan, Vinns. Lo kuat. Jangan nangis. Oke terima dulu kenyataan ini, pelan-pelan anggap dia sebatas teman aja. Lagipula itu pasti temen lama dia, kan dia baru balik dari Bali. Don’t worry” ucapnya menenangkanku
“Ya… betul. Gua emang selalu disakitin, padahal gua ga pernah jahat sama orang. Makasih, Ren, selalu denger cerita gua. Selamat tidur.”
“Tuu…tungg” aku memutus telponnya dan mematikan HP, agar tidak melihat notifikasi dari Davis. Aku menangis hingga tertidur. Tak kusangka ia tidak membalas chatku dan pergi dengan dua wanita itu…


#3 Pastel in Monochrome
*Notification*
Davis : “Sorry baru bales ya semalem gue cabut sama temen-temen nih, lo gak bisa sih kemaren pergi sama gue”
“What the f? Gue ga bilang ga bisa ya! Gue cuma bilang rapat BEM bukan berarti gue gak bisa. Bahkan gue ke salon demi lo woy!” Vinns yang galak pun keluar dari sarangnya. Ia memaki tembok kamarnya
Vinns : “haha iya gapapa. Tapi padahal gue bisa loh, gue udah ke salon”
Davis : “Oh iya? Gue kira lo ke salon karena refreshing aja”
Vinns : “Hmm ya itu juga. Tapi kemaren gue bisa sebenernya”
Aku meneguk teh hangat di balkon kamarku
“Hhhhh misscomm! Kesel. Tapi yasudahlah gue maafin aja. Mungkin bener kata Darren, dia emang mau reuni ama temen lama. Ihhhh” teh hangat pun terasa dingin di pagi itu.
Setelah itu aku melupakan seluruh kejadian menyebalkan yang terjadi, dan tetap berhubungan baik dengan Davis tanpa mencampuri kecurigaan. Ia benar-benar membuatku bahagia.
***
Sayangnya 2 bulan kemudian, hal yang sama terulang kembali. Bahkan aku belum pernah menemuinya sekalipun ia berada di Jakarta.
iMessage
08.00 AM
Davis : Aku di Jakarta dari Kamis sampai Jumat nih
Vinns : Wah iya? Baiklah jangan lupa selesaiin tugas kelulusannya yaa hahah kan bulan depan udah sidang! Abis itu wisuda deh. Semangat hihihi
08.00 PM
*Incoming call from Darren*
Darren : Hey, ada apa, Vinns? Apa ini masih ada hubungannya dengan Mr. D?
Vinns : Ya… Aku bingung kenapa dia hilang-hilangan banget selama di Jakarta ini. Masa chat aku ga dibales seharian, definisi 12 jam ga dibales. Tapi…
Darren : Tapi?
Vinns : Hmm… Li…liat deh snapgram Davis. Dia didalem mobil dan disampingnya ada suara cewe. Masalahnya, si cewek ini pake Aku Kamu dong. Aku ga yakin mereka cuma temenan
Darren : Vinns, aku tau kamu khawatir. Tapi manggil Aku Kamu bukan berarti mereka pacaran. Itu bukan indikatornya. Kenapa ga lo ga duluan ajak dia?
Vinns : Ya aneh aja lah kalo cewe ngajak duluan. First date harus cowok yang ngajak, nah baru seterusnya boleh deh gue yang inisiatif
Darren : Hmm, oke kalo gitu pemikiran lo. Kalo gitu langkah lo sekarang apa?
Vinns : Hm…. Aku. Merelakan dia
Tak sadar air mataku menetes dan mengalir deras di wajahku. Aku tak menyangka, Davis yang setiap harinya mendengar keluh kesah dan curhatanku, ternyata tidak memandangku sepenting itu. Seperti ini lah kenyataannya.
Darren : Vinns, Apa kamu yakin?
Vinns : Ya, aku akan meninggalkannya perlahan. Mute Insagram nya terlihat lebih baik. Lagipula, dekat bukan berarti harus jadian kan?
Aku menggigit bibirku agar tangisanku tak semakin menjadi
Darren : Vinns, kalau kamu membutuhkan pundak, maka menangis lah sejadi-jadinya. Lo yang bilang sendiri kalo perasaan ga bisa ditahan.
Vinns : Hm
Darren : Bukain pintu, gue di depan. Nangis aja gapapa jangan peduliin gue. Its okay, Vinns
Vinns :What?.... Are you sure?


Aku lari ke bawah dan membuka pintu. Dan ya benar, Darren bersama BMW putihnya menunggu dibukakan pintu untuk masuk ke garasi. Setelah itu aku memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Darren tak berkata apa-apa dan hanya mengelusku, seakan memahami betul yang kurasakan.
Malam itu adalah malam dimana aku menyadari bahwa suatu hal yang hilang akan digantikan oleh suatu hal yang sama meskipun dengan wujud berbeda. Aku kehilangan Davis, karena ego ku yang ingin memilikinya sebagai kekasih meskipun sebaliknya, ia bahkan tak menganggapku sepenuhnya. Tapi sebagai gantinya, aku selalu memiliki Darren, sahabat baik yang siaga 24 jam mendengar keluh kesah ku mengenai apapun.

#Letter To Phoenix

Dear Someone,
You are My Spectrum in Black and White
You are My Vibrant in Two-Tone Colored
You are My Spectrum in Rainbow
You are My Pastel in Monochrome
If you read this,
Thank you for being my Prince on White Horse
You saved me in that noon
But then again,
You taught me how to letting go
You taught me that someone could be our lesson
You taught me how iridescent my life is

- FIN -
5.19
 
Iridescent Hidden Stories Blog Design by Ipietoon