Letter for Her


Dear You,
I never count your blessing smile
I never count your lovely laugh
Too much, perhaps?
But I know your name
And I know he choosed you

How’s his life?
He still loves playing the game?
He still hates the vegetables?
He still loves to workout?
I hope you understand that he is a stubborn boy
But all I know is, I love him
With all of my heart

I hope you treat him like a prince
Don’t make him cry
Don’t make him sad
Lead him to be a better person
Lead him to living a happy life
I beg
Now it’s time to say bye
Tell him, that I love him
Also tell him, that I’m dead inside

- fin -

Narasi Biru


“Kita sampai disini. Terima kasih telah berbagi kebahagiaan”

“Tapi… mengapa?”

“Aku tahu sudah sejauh ini kita bersama. Kamu suka pantai, aku juga. Kamu pecinta kopi, aku pun juga. Hahaha. Kesamaan kita sangat banyak. Aku ingin bersamamu hingga akhir waktu”

“Lantas mengapa?”

“Kamu tahu, semua kesamaan ini sulit berakhir bahagia. Pada akhirnya kita tak bisa bersama. Hanya satu perbedaan kita”

“Apakah itu?”

“Ya... Only God knows why”

Aku pun memahami. Sebuah perbedaan tersebut yang memisahkan dua insan manusia.

10.18

Ares and Aphrodite



Dear Ares,

Thank you for brighten up my day
I smile everytime your name poppin’ up on my phone
Simple “Hai” means everything
But you said “Goodmorning. Have a nice day”
And you burned that day
Dear The God of War, you won my deepest heart


Dear Ares,
Thank you for saving my life among these cruel intentions
Your existence gave me breath
Your laugh gave me happiness
Your hug gave me peace
Your kiss gave me another chance,
To make me feel alive again

Sincerely,
Your 20th Century Aphrodite
6.7.19

Iridescent



#1 Black and White
Aku bersamanya, ya, bahagia
Namun entah mengapa hatiku terperanjat dalam sebuah penjara
Ku ingin lari
Dan terhempas bebas
Senja itu ku terlepas sepenuhnyaa dari sana
Dengan penuh luka dan darah
Hingga pada akhirnya ku temukan secercah cahaya
Di sana,
Di mata mu…


#2 Iridescent
Hai, aku mahasiswi biasa yang duduk di semester 4 salah satu universitas terbaik. Panggil aku Vinns, singkat kata, cukup Vinns. Vinns Clareta. Aku mahasiswi Fakultas Psikologi yang tengah pontang-panting memikirkan kesehatan mental seseorang. Seseorang itu kini jatuh bangun mempertahankan rasionalitasnya karena kebodohan akan cinta, dan kini tengah dilanda anxiety karena hubungan percintaannya yang kandas akibat toxic relationship. Siapakah orang itu? Ya, aku. Seorang mahasiswa psikologi yang dilanda paradoks bukan?
            Hubungan yang telah dilaluiku tergolong toxic dan lebih memberikan banyak sakit hati ketimbang kebahagiaan. Tapi aku membela diriku dengan alasan “dia kan mencintaiku, aku harus menerima dia apa adanya”. Dan ternyata itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Sebut saja cabut kelas 3 kali demi menemui dia dan menyusul kerumahnya, pulang jam 1 malam karena menemani dia yang sedang bad mood, berbohong kepada teman-teman untuk tidak ikut nongkrong bareng padahal aku kencan dengan si cowok ini, mengalah dan dihakimi selama 3 jam karena kesalahanku tidak menunggunya di depan pintu, bahkan model celanaku pun dikomentari oleh dia karena menurutnya tidak pas. Toxic kah? Tentu saja iya. Tapi aku baru menyadarinya setelah lepas darinya. Karena ketika kamu masih bersamanya, kau benar-benar buta…
            Aku bukan tipe orang yang nangis seminggu penuh hingga mata membengkak luar biasa. Tapi setitik emosi dalam hatiku mengatakan, akan ada seseorang yang lebih baik, jauh lebih baik ketimbang ia. Dan ya, entah mengapa tiba-tiba ku mengenalnya. Pangeran berkuda putih dengan senapan di tangan kirinya. Seraya mengulurkan tangan kanan nya kepadaku memberi bantuan agar terlepas dari cengkraman penyandera. Aku menariknya. Dan sejak itu pun aku terlepas sepenuhnya dari sang penyandera
                        ***
            Aku membuka handphone ku setelah masuk ke kelas siang itu. “Hai, kamu yang tadi ya? Oh iya, kalo lupa, namaku William Davis. Panggil aku Vis. Kan kamu Vinn hahaha nah aku Vis”, loh dia benar-benar add line ku, pikirku dalam hati. “Oh hey, Vis ahaha Vis sounds like Fish you know. Ikan!” aku membalasnya dengan sedikit bercanda. “Hahaha so funny! Gimana kamu kuliahnya? Aku dikit lagi skripsi. Ya tau lah skripsi tuh astaga, definisi melelahkan”. Singkat cerita, Davis adalah pria yang ramah, pemberi advice yang cukup baik, humoris, rasional, bahkan kebanyakan orang menilainya sangat flawless ditambah parasnya yang menurutku mendekati sempurna. Apalagi rambut ash khas Davis yang meningkatkan ketampanan 1000x lipat. Wanita mana yang tidak terpesona? Hingga saat ini aku sibuk mencari kekurangannya meski belum ketemu ahaha. Hmm mungkin ada, aku dan dia berjauhan letaknyan. Aku di Jakarta, dan dia di Bali menjalani sekolah pilot, Bali Flight Aerospace Academy. Keluarganya memiliki rumah di Jakarta, dan tiap minggu ia pulang ke Jakarta.


            Hari-hari kami cukup bahagia, tiap malam kami bercerita tentang hari penat yang dilalui satu sama lain. Bahkan aku dan dia bercerita tentang mantan satu sama lain. Dia mengingatkan ku pada sahabat lama yang entah menghilang kemana sekarang.
“Vinns, lo goodlistener banget ya. Gue seneng cerita sama lo hahah” ucapnya
“Oh iya ya? Good to know that. I just want to see you happy. Just tell me everything, gue gamau lo mendem amarah dan kekesalan lo gitu aja” jawabku
“Ok aku mau tanya sesuatu sama kamu. Ini serius” ucapnya tiba-tiba, dengan diksi yang berubah menjadi aku kamu, cewe mana yang ga baper
“Iya, apa?”
“Jadi, kamu tim bubur diaduk apa ga diaduk?”
“……. Ha?”
“HAHAHA”
“HAHAHA apasihhhh!! Kesel” aku yang semula degdegan jadi kesel dibuatnya. Ya, Davis selalu berhasil membuatku tertawa. Hari hariku selalu bahagia karenanya, meski hanya melalui smartphone tanpa bertatap muka langsung. Entah kapan aku akan bertemu dengannya. Jual mahal, aku ga akan mengajaknya duluan. Ucap ego kecilku.
“Vinns kali ini aku beneran nanya nih. Besok sabtu kamu sibuk ga?”
“Mmmmm iya sih aku ada rapat BEM sampe sore huhuhu dari pagi” ucapku dengan nada sedih
“Yah sibuk?”
“Hmmm gitu deh”
“Padahal mau gua ajak main kalo kamu ga sibuk” ucap Davis
“Ohh kamu mau ke Jakarta ya” saat itu pikiran dan imajinasiku telah kemana-mana, membayangkan kita akhirnya bertemu setelah saling bertukar cerita selama dua bulan. Tapi entah kenapa, suka kesel ama orang kaya gini, kenapa ga directly ngomong ke kita as simply as “yuk kita jalan malemnya” dan berhenti gitu aja tanpa kejelasan selanjutnya. Dan akhirnya di hari Sabtu setelah rapat BEM, aku pergi ke salon. Jaga-jaga kalau Davis mengajakku pergi.

“Hey, Vinns, lo ga pulang?” ucap Darren, ketua BEM fakultasku
“Hey, Boss, aku mau pergi ke salon nih hahah” ucapku sambil tersenyum
“Mau ku anter? Di Sency kan? Aku juga mau kesana”. Dan ya, akhirnya aku pergi ke salon bersama sang Ketua BEM yang tampan tak tertahankan.
“By the way, Vinns, lo pasti mau ketemu cowok ya?? Iya ga hahaha” Darren tiba-tiba asal bunyi sembari menyalakan mesin mobil
“WAIT. Kok lo tau?” aku setengah teriak dengan mengernyitkan dahi
“Ya iya lah, gelagatnya beda. Lo biasanya balik rapat langsung tidur, mana ada sekarang nyalon. Yang mana sih cowoknya?? Kalo sampe lo diapa-apain, telpon gue. Gue bakal maju duluan” ya, sang Ketua BEM bersabda
“Eh serem banget si Bapak huhu. Baik kok dia, tenang aja. Kenapa nih lo mau ngasih petuah?” ucapku sambil tertawa
“Vinns, gini, sebenernya gue ga mau ngeliat lo sakit hati lagi karena hubungan sebelumnya. Intinya, tolong majuin rasionalitas lo. Lo cewe yang baik, ga pantes dijahatin sama cowo. Pertama, kalo dia udah berbohong, langsung lupain aja dia. Based dalam hubungan adalah trust, kalo dia berbohong dan gabisa dipercaya, ya buat apa? Apalagi kalo dia gabisa pegang omongan. Skip. Kedua, kalo dia pergi sama cewe lain tapi hilang dan ga ngabarin lo, asli ini bahaya banget. Since gue tau betul lo cemburuan Vinns. Jangan denial sama kenyataan” Davis mulai memberi petuah sebagai kakak-kakak-an yang baik
“Ok…eyy.. terus lanjutannya?” ucapku sambil menikmati kemacetan
“Yaudah itu dulu. Nanti kalo ada apa-apa, langsung cerita sama gue” Tatapan Darren melalui mata abu-abu menusuk dalam
“Iya kakak kampus kuuuu!”
Tak terasa sudah sampai di Mall, kami berpisah di depan salon. Ia hendak mencari sepatu untuk hadiah ibunya. Selama creambath, aku menunggu chat Davis yang tidak membalas pesan sejak jam 2 siang. Aku khawatir apakah dia baik-baik saja.


#3 The Hidden Color
6.00 pm
“Darren, aku pulang duluan ya” sent by line.
7.00 pm
Aku sudah sampai rumah, menunggu kepastian kelanjutan first date ku dengan Davis. Jujur aku yakin dia pasti sudah sampai dirumah, karena dia udah mendarat di Bandara pukul 9 pagi. Gamungkin kalau belum sampai. Aku masih berusaha positive thinking, mungkin jam 8? Sembari menunggunya membalas, aku mengecat kuku agar lebih cantik.
Sembari menunggu kuku kering, aku iseng buka Insagram. Dan… aku terbelalak melihat story Insagram Davis yang berisikan foto dirinya beserta 2 wanita di sebuah fancy restaurant. Aku terpaku, tidak paham harus apa. Yang aku tahu adalah, harusnya aku yang berasa disana…
Aku terduduk di sudut ruangan kamarku. Entah harus berbuat apa. Dadaku terasa sakit dan seketika hampa..

10.00 pm
*Incoming call from Darren*
Oh my God, I thought it was D for Davis
“Hey” ucapku duluan
“Wait… Hey, are you okay?” suara Darren terdengar khawatir
“No… Dia seharian ilang, Ren, dari jam 2 sampe jam 8 malem ini gila ga sih dan lo tau apa? Dia jalan sama cewe 2 biji di Skyave. Dan gue ditinggal ga dikabarin” Aku menangis. Entah Darren mendengar tangisanku atau tidak
“Tahan, Vinns. Lo kuat. Jangan nangis. Oke terima dulu kenyataan ini, pelan-pelan anggap dia sebatas teman aja. Lagipula itu pasti temen lama dia, kan dia baru balik dari Bali. Don’t worry” ucapnya menenangkanku
“Ya… betul. Gua emang selalu disakitin, padahal gua ga pernah jahat sama orang. Makasih, Ren, selalu denger cerita gua. Selamat tidur.”
“Tuu…tungg” aku memutus telponnya dan mematikan HP, agar tidak melihat notifikasi dari Davis. Aku menangis hingga tertidur. Tak kusangka ia tidak membalas chatku dan pergi dengan dua wanita itu…


#3 Pastel in Monochrome
*Notification*
Davis : “Sorry baru bales ya semalem gue cabut sama temen-temen nih, lo gak bisa sih kemaren pergi sama gue”
“What the f? Gue ga bilang ga bisa ya! Gue cuma bilang rapat BEM bukan berarti gue gak bisa. Bahkan gue ke salon demi lo woy!” Vinns yang galak pun keluar dari sarangnya. Ia memaki tembok kamarnya
Vinns : “haha iya gapapa. Tapi padahal gue bisa loh, gue udah ke salon”
Davis : “Oh iya? Gue kira lo ke salon karena refreshing aja”
Vinns : “Hmm ya itu juga. Tapi kemaren gue bisa sebenernya”
Aku meneguk teh hangat di balkon kamarku
“Hhhhh misscomm! Kesel. Tapi yasudahlah gue maafin aja. Mungkin bener kata Darren, dia emang mau reuni ama temen lama. Ihhhh” teh hangat pun terasa dingin di pagi itu.
Setelah itu aku melupakan seluruh kejadian menyebalkan yang terjadi, dan tetap berhubungan baik dengan Davis tanpa mencampuri kecurigaan. Ia benar-benar membuatku bahagia.
***
Sayangnya 2 bulan kemudian, hal yang sama terulang kembali. Bahkan aku belum pernah menemuinya sekalipun ia berada di Jakarta.
iMessage
08.00 AM
Davis : Aku di Jakarta dari Kamis sampai Jumat nih
Vinns : Wah iya? Baiklah jangan lupa selesaiin tugas kelulusannya yaa hahah kan bulan depan udah sidang! Abis itu wisuda deh. Semangat hihihi
08.00 PM
*Incoming call from Darren*
Darren : Hey, ada apa, Vinns? Apa ini masih ada hubungannya dengan Mr. D?
Vinns : Ya… Aku bingung kenapa dia hilang-hilangan banget selama di Jakarta ini. Masa chat aku ga dibales seharian, definisi 12 jam ga dibales. Tapi…
Darren : Tapi?
Vinns : Hmm… Li…liat deh snapgram Davis. Dia didalem mobil dan disampingnya ada suara cewe. Masalahnya, si cewek ini pake Aku Kamu dong. Aku ga yakin mereka cuma temenan
Darren : Vinns, aku tau kamu khawatir. Tapi manggil Aku Kamu bukan berarti mereka pacaran. Itu bukan indikatornya. Kenapa ga lo ga duluan ajak dia?
Vinns : Ya aneh aja lah kalo cewe ngajak duluan. First date harus cowok yang ngajak, nah baru seterusnya boleh deh gue yang inisiatif
Darren : Hmm, oke kalo gitu pemikiran lo. Kalo gitu langkah lo sekarang apa?
Vinns : Hm…. Aku. Merelakan dia
Tak sadar air mataku menetes dan mengalir deras di wajahku. Aku tak menyangka, Davis yang setiap harinya mendengar keluh kesah dan curhatanku, ternyata tidak memandangku sepenting itu. Seperti ini lah kenyataannya.
Darren : Vinns, Apa kamu yakin?
Vinns : Ya, aku akan meninggalkannya perlahan. Mute Insagram nya terlihat lebih baik. Lagipula, dekat bukan berarti harus jadian kan?
Aku menggigit bibirku agar tangisanku tak semakin menjadi
Darren : Vinns, kalau kamu membutuhkan pundak, maka menangis lah sejadi-jadinya. Lo yang bilang sendiri kalo perasaan ga bisa ditahan.
Vinns : Hm
Darren : Bukain pintu, gue di depan. Nangis aja gapapa jangan peduliin gue. Its okay, Vinns
Vinns :What?.... Are you sure?


Aku lari ke bawah dan membuka pintu. Dan ya benar, Darren bersama BMW putihnya menunggu dibukakan pintu untuk masuk ke garasi. Setelah itu aku memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Darren tak berkata apa-apa dan hanya mengelusku, seakan memahami betul yang kurasakan.
Malam itu adalah malam dimana aku menyadari bahwa suatu hal yang hilang akan digantikan oleh suatu hal yang sama meskipun dengan wujud berbeda. Aku kehilangan Davis, karena ego ku yang ingin memilikinya sebagai kekasih meskipun sebaliknya, ia bahkan tak menganggapku sepenuhnya. Tapi sebagai gantinya, aku selalu memiliki Darren, sahabat baik yang siaga 24 jam mendengar keluh kesah ku mengenai apapun.

#Letter To Phoenix

Dear Someone,
You are My Spectrum in Black and White
You are My Vibrant in Two-Tone Colored
You are My Spectrum in Rainbow
You are My Pastel in Monochrome
If you read this,
Thank you for being my Prince on White Horse
You saved me in that noon
But then again,
You taught me how to letting go
You taught me that someone could be our lesson
You taught me how iridescent my life is

- FIN -
5.19

Frozen Heart and The Burning Sun

"Could a dead, frozen heart beat again?”


Aku adalah wanita dingin yang tak bisa merasakan ataupun membalas cinta. 20 tahun aku menjalani hidup, hanya berlalu dan bias tanpa kiasan cinta, bahkan sekalipun tangisan.  Aku adalah The Frozen Girl, kata mereka. Namaku Isabelle, panggil saja Bell. Aku hanya berbicara dan tersenyum jika diperlukan.  Aku tak faham mengapa masih banyak pria yang mendekatiku meski tak pernah ku hiraukan, meski pada akhirnya mereka menghilang secara perlahan. Namun berbeda dengan pria yang satu ini. Ia adalah sosok ceria dan memiliki segudang teman, senyum cerahnya menularkan kebahagiaan. Meski tak henti-hentinya mendekatiku, tetap saja aku tak peduli dan dingin.

Hai, Isabelle!
Bagaimana hari ini? Aku nitip coklat ke Fella untukmu.
Dimakan yaa dan jangan lupa tersenyum! :)

1 pesan masuk dari James, pria penuh tawa yang rajin memberiku coklat dan mengingatkanku untuk tersenyum. Risih sekali rasanya.
“Terimakasih” aku membalas seperlunya.

Hari demi hari kujalani dengan rutinitas tak berubah. Jam 8 pergi ke kampus, lalu jam 3 pulang dan kardio di Gym. Dirumah pun sama. Kedua orangtua ku bekerja di luar negeri, dan kakak ku kuliah di kota berbeda. Hal ini membuatku mandiri dan menganggap semua candaan tidaklah berguna, karena aku menjalani hidup dengan serius. Jika tidak menjalani hidup dengan benar, aku akan kehilangan banyak peluang, karena tidak ada yang mengawasiku.
James selalu menemaniku selama 5 bulan ini. Menemaniku makan di kantin, meminjam buku di perpustakaan, memilih warna lipstik di mall, bahkan lari di thread mill Gym. Aku tak mengerti mengapa ia melakukan semua itu, padahal aku tak memberi tanggapan spesial, biasa saja dan yaa... tetap dingin. Bahkan terkesan mengacuhkannya.
Suatu saat aku berani menanyakannya,
“James, kenapa selalu ngikutin aku?”
“Yah gimana yaa hahaha namanya juga suka”
“?” aku melontarkan tatapan menusuk
“Ngga ngga bercanda hahaha! Aku senang di samping kamu, meskipun kamu diem doang. Kamu bicara 2 kalimat tuh udah hebat banget” dia berkata sambil mengacungkan jempolnya
“Aku gak nganggep kamu apa-apa” ia terhenti,
“Bell, sebenarnya tujuan aku satu. Aku mau kamu merasakan kebahagiaan. Selama ini aku lihat kamu dingin, tapi aku tahu dari tatapan matamu, penuh kesedihan dan kekosongan. Aku ingin lihat kamu tersenyum, dan aku harap itu terjadi karena aku” ia mengusap pundakku dan menatap lurus dimataku
“Apaan sih!” aku menepis tangannya.
Meskipun aku risih dan menolak kehadirannya, James selalu berada di sisiku. Ia adalah pria tersabar yang menghadapiku, meski memiliki banyak teman, ia tak pernah meninggalkanku. Terkadang aku cemburu melihatnya bersama teman wanita lain, tapi buat apa juga aku cemburu?

Oh iya, James sering memberiku random surprise seperti coklat, boneka, bahkan makeup.

Untuk Isabella yang sedingin es.
Akankah suatu saat kau mencair karena ulah sinar matahari? Aku harap akulah si matahari itu, yang selalu menerangi hari-harimu.
Dari, James si Matahari

Pagi itu di mejaku tergeletak bucket bunga matahari dan suratnya.
“Astaga… Manusia aneh!” orang-orang disekeliling melihatku, aku pun risih.
Mengapa bunga matahari?! Biasanya di film-film pria memberi bunga mawar merah, pikirku.  Sepulang kuliah aku menghampiri James dan mengatakan apa maksudnya. Aku kesal dengan responnya yang hanya tertawa
“James! Apa sih maksud kamu ngasih bunga matahari? Aku bukan orang meninggal yang harus dikasih bunga. Aku gak suka kamu ngusik hidup aku!” Aku berkacak pinggang dan sedikit meninggikan nada bicaraku
“Ih gemes banget kamu kalo marah-marah ahaha” James hanya tertawa dan mencubit pipiku
“Jangan cubit cubit! Kamu kenapa sih aneh banget” aku menepis tangannya
“Karena kamu lucu”
Aku tak habis pikir, bisa-bisanya ia malah bercanda ketika aku marah seperti ini
"Aku gak suka kamu ngikut-ngikut aku. Aku diam selama ini bukan berarti aku gak risih. Jelas aku risih! Tapi untung kamu ga berulah aneh-aneh jadi bisa dimaafin. Tapi kalau sampai menarik perhatian umum kaya gini, aku gak suka!" kalimat tersebut terlontar tanpa kupikirkan sebelumnya.
“Isabelle…” lanjut James
“Aku minta maaf kalau kamu membenci kejutan ini. Aku hanya berusaha untuk membuatmu senang dan tersenyum” ia menggenggam tanganku, kemudian pergi berlalu.
Mungkin ini kali pertama aku merasa kemarahanku diluar batas, maksudku, sebenarnya tak salah sepenuhnya seseorang memberiku bunga. Meski aku sangat risih.
Kulihat punggungnya dari kejauhan, aku berharap ia kembali, namun nyatanya tidak.

Ting!  Tiba-tiba 1 pesan masuk dari James esoknya

Hai, Isabelle.
Wanita cantik berhati dingin. Aku harap kali ini kamu tidak marah-marah lagi ya hahaha. Lapar? Aku tunggu sepulang kampus di Varome Café ya.
See you!

Tak seperti biasanya aku senang seperti ini, tidak senang juga sih. Tapi aku bersyukur James tak hilang akibat tragedi bunga matahari kemarin. Tapi aku harus ke Gym untuk kardio baru pergi ke Café menemui James. Bagiku tubuh harus langsing dan bugar, aku juga melakukan bench press dan squat. Aku menikmati kegiatanku hingga tak terasa sudah pukul 5 sore, aku berganti baju dan segera menemui James.


“Hai, Isabelle! Akhirnya nya sampai juga. Apa ada masalah diperjalanan?” ia melambaikan tangannya sembari memanggilku.
“Kau menungguku?”
“Yaa, sejak sepulang kampus tentu saja” James berkata sambil tersenyum.
Jadi, dia menungguku? Aku pun tak tahu harus berucap apa. Maaf kah? Aku tak pernah makan dan berkencan sebelumnya, aku hanya bingung harus melakukan apa. Karena kegiatanku setelah kampus… ya pergi ke Gym.
“Ah iya… Bell, aku sungguh minta maaf atas kejadian kemarin. Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Sungguh aku hanya ingin membuatmu bahagia dengan bunga itu. Tapi tolong, jangan marah dan tetaplah bersamaku” James memohon, tatapannya pun tulus.
“Ya… maafkan aku juga” bibir ini dengan berat hati berkata demikian, tapi entah mengapa semua bebanku terlepas. Ucapan maaf adalah obatnya.
“Hahaha!”
“Loh, kenapa?” aku bingung
“Ternyata orang seperti kamu bisa minta maaf juga yaa. Ajaib ya?" James meledek
Aku pun tertawa untuk pertama kali setelah sekian lama. Lama sekali. Ya, James berhasil membuatku tertawa. Kami pun tertawa bersama pada senja itu. Lalu pergi ke Taman Lampion. Lokasinya tak jauh dari Varome Café. Lampion dan berbagai lampu kerlap-kerlip cantik menghiasi taman, cerah seperti senyumanku malam itu. James menggenggam tanganku untuk pertama kalinya, dan ya, aku tidak menepisnya. Kami duduk di bangku taman di depan air mancur.
“Isabelle, terima kasih untuk hari ini. Aku bangga kau banyak berubah. Kau belajar tersenyum dariku ya? Hahaha” seperti biasa James memulai percakapan
“Aku bisa tersenyum. Jika bersamamu” astaga aku refleks mengucap ini. Aneh.
“Hah, apa? Aku salah dengar ya?? Kamu bisa gombal juga ya” kami pun tertawa bersama.
Berbincang-bincang mengenai kampus dan kehidupan dengan James terasa nyaman. Sejak saat itu aku dapat tersenyum berkat James. Hidupku tak seperti biasanya. Sekarang aku memahami betapa bahagianya hidup penuh ceria, pantas saja James dikelilingi banyak teman.
*
Kami berkencan lagi ke bioskop premiere, film yang kutunggu akhirnya tayang. James terlihat tampan dengan mengenakan kemeja biru nya. Setelah memesan popcorn kami masuk ke dalam bioskop. Film genre romance berdurasi 90 menit diiringi lagu-lagu cinta membuat kami terbawa suasana romantis. Ia mendekapku dan mengusap rambutku.
“Aku tak nyaman” ucapku tiba-tiba, aku yang pada dasarnya dingin tak terbiasa dengan ini
“Oh, maaf…” ia menyingkirkan tangannya
Setelah film selesai James hendak mengantarkanku pulang dengan Benz putih kesayangannya.
“Isabelle, aku punya sesuatu untukmu” ia mengeluarkan bucket mawar merah dengan pita putih cantik yang merangkainya menjadi satu.
“Ahh astaga terimakasih, James. Kau bai….” Tu…tunggu!!!
Aku sangat terkejut tiba-tiba James menarik kedua tanganku dan hendak mencium bibirku.
Aku menepisnya dan,
Plak!
Aku refleks menampar pipinya. Entah apa yang kulakukan saat itu, bahkan aku pun terkejut mengapa bisa tanganku menamparnya. Tapi aku menilai, ini tidak sopan dan terlalu cepat. Kulihat wajahnya menunduk
“James kamu ngapain sih?!” aku keluar mobil dan hendak pulang naik taxi. Kuharap ia mengejarku, namun tidak, ia terdiam tak menyangka tangan ini mendarat di pipinya. Jauh di lubuk hati ini, aku merasa bersalah namun tak sepenuhnya benar juga. James bukan kekasihku, sebuah ciuman terlalu cepat untuk teman seperti kita. 

U h t c e a r e

Aku masih tidak menyangka selama ini kami berteman baik, dan tiba-tiba ia hendak menciumku tanpa permisi. Apakah pantas? Apakah ia orang yang layak mendapatkan sebuah kecupan dariku? Aku memupuk keinginan untuk menghubunginya. Dengan demikian ia tak menghubungiku sama sekali, bahkan sekedar menanyakan kabar pun tidak. Ku lalui hari-hariku seperti biasa tanpa senyuman James. Perlahan gejolak kesedihan dapat kurasakan, terlebih setitik kekosongan...
Hatiku hancur. James menghilang dari hadapanku. Bahkan aku tak sempat mengucapkan terima kasih karena telah mengubah hari-hari kelamku. Tak ada lagi James sejak saat itu. Tak ada coklat, bunga matahari, sepucuk surat, bahkan senyumannya. Aku kehilangan James. Aku yang berhati dingin tak kuasa menahan tangis, aku menangis sejadi-jadinya dibalik pintu kamarku. Aku merasakan kehilangan yang amat sangat. 8 bulan ia menjadi sahabatku, dan kini hilang begitu saja. Sekarang aku menyadari ia berharga bagiku…
Aku memandangi bunga matahari yang pernah ia berikan, terlarut dalam kehilangan dan menghadapi kenyataan bahwa sinar matahari itu telah mencairkan sebongkah hati yang beku. Perlahan aku belajar untuk tersenyum, agar selalu kuingat James telah mengajarkan hal ini. Bahkan aku sudah mampu tertawa dan membuat lelucon di depan teman-teman.

“James, aku cinta padamu…”


The frozen heart has been melted. 

And the frozen heart beating again. The burning sun did it.

Aku menjalani hari-hari biasa dengan senyum dan tawa, seperti yang James telah ajarkan padaku. Sudah 2 bulan sejak tragedi itu dan tentu hatiku masih ada padanya. James adalah sosok yang mengubahku menjadi seseorang yang penuh senyum dan berbahagia kembali.
Sore itu tiba-tiba adik ku masuk ke kamar,
“Bell, ada surat untukmu”
“Dari siapa?”
"Tulisannya berinisial J. Ah, ada bunga matahari juga"


- FIN -
7.18

 
Iridescent Hidden Stories Blog Design by Ipietoon