"Could a dead, frozen heart beat again?”
Aku adalah wanita dingin yang tak bisa merasakan ataupun
membalas cinta. 20 tahun aku menjalani hidup, hanya berlalu dan bias tanpa
kiasan cinta, bahkan sekalipun tangisan.
Aku adalah The Frozen Girl, kata mereka. Namaku Isabelle, panggil saja
Bell. Aku hanya berbicara dan tersenyum jika diperlukan. Aku tak faham mengapa masih banyak pria yang
mendekatiku meski tak pernah ku hiraukan, meski pada akhirnya mereka menghilang
secara perlahan. Namun berbeda dengan pria yang satu ini. Ia adalah sosok ceria
dan memiliki segudang teman, senyum cerahnya menularkan kebahagiaan. Meski tak
henti-hentinya mendekatiku, tetap saja aku tak peduli dan dingin.
Hai, Isabelle!
Bagaimana hari ini? Aku
nitip coklat ke Fella untukmu.
Dimakan yaa dan jangan lupa tersenyum! :)
1 pesan masuk dari James, pria penuh tawa yang rajin
memberiku coklat dan mengingatkanku untuk tersenyum. Risih sekali rasanya.
“Terimakasih” aku membalas seperlunya.
Hari demi hari kujalani dengan rutinitas tak berubah. Jam 8
pergi ke kampus, lalu jam 3 pulang dan kardio di Gym. Dirumah pun sama. Kedua
orangtua ku bekerja di luar negeri, dan kakak ku kuliah di kota berbeda. Hal ini
membuatku mandiri dan menganggap semua candaan tidaklah berguna, karena aku
menjalani hidup dengan serius. Jika tidak menjalani hidup dengan benar, aku akan kehilangan banyak peluang, karena tidak ada yang mengawasiku.
James selalu menemaniku selama 5 bulan ini. Menemaniku makan
di kantin, meminjam buku di perpustakaan, memilih warna lipstik di mall,
bahkan lari di thread mill Gym. Aku tak mengerti mengapa ia melakukan semua
itu, padahal aku tak memberi tanggapan spesial, biasa saja dan yaa... tetap dingin.
Bahkan terkesan mengacuhkannya.
Suatu
saat aku berani menanyakannya,
“James, kenapa selalu ngikutin aku?”
“Yah gimana yaa hahaha namanya juga suka”
“?” aku melontarkan tatapan menusuk
“Ngga ngga bercanda hahaha! Aku senang di samping kamu, meskipun
kamu diem doang. Kamu bicara 2 kalimat tuh udah hebat banget” dia berkata
sambil mengacungkan jempolnya
“Aku gak nganggep kamu apa-apa” ia terhenti,
“Bell, sebenarnya tujuan aku satu. Aku mau kamu merasakan
kebahagiaan. Selama ini aku lihat kamu dingin, tapi aku tahu dari tatapan
matamu, penuh kesedihan dan kekosongan. Aku ingin lihat kamu tersenyum, dan aku harap itu terjadi karena aku” ia
mengusap pundakku dan menatap lurus dimataku
“Apaan sih!” aku menepis tangannya.
Meskipun aku risih dan menolak kehadirannya, James selalu
berada di sisiku. Ia adalah pria tersabar yang menghadapiku, meski memiliki
banyak teman, ia tak pernah meninggalkanku. Terkadang aku cemburu melihatnya
bersama teman wanita lain, tapi buat apa juga aku cemburu?
Oh iya, James sering
memberiku random surprise seperti coklat, boneka, bahkan makeup.
Untuk Isabella yang sedingin es.
Akankah suatu saat kau mencair karena ulah sinar matahari? Aku harap akulah si
matahari itu, yang selalu menerangi hari-harimu.
Dari, James si Matahari
Pagi itu di mejaku tergeletak bucket bunga matahari dan
suratnya.
“Astaga… Manusia aneh!” orang-orang disekeliling melihatku,
aku pun risih.
Mengapa bunga matahari?! Biasanya di film-film pria memberi
bunga mawar merah, pikirku. Sepulang
kuliah aku menghampiri James dan mengatakan apa maksudnya. Aku kesal dengan
responnya yang hanya tertawa
“James! Apa sih maksud kamu ngasih bunga matahari? Aku bukan
orang meninggal yang harus dikasih bunga. Aku gak suka kamu ngusik hidup aku!”
Aku berkacak pinggang dan sedikit meninggikan nada bicaraku
“Ih gemes banget kamu kalo marah-marah ahaha” James hanya
tertawa dan mencubit pipiku
“Jangan cubit cubit! Kamu kenapa sih aneh banget” aku
menepis tangannya
“Karena kamu lucu”
Aku tak habis pikir, bisa-bisanya ia malah bercanda ketika
aku marah seperti ini
"Aku gak suka kamu ngikut-ngikut aku. Aku diam selama ini bukan berarti aku gak risih. Jelas aku risih! Tapi untung kamu ga berulah aneh-aneh jadi bisa dimaafin. Tapi kalau sampai menarik perhatian umum kaya gini, aku gak suka!" kalimat tersebut terlontar tanpa kupikirkan sebelumnya.
“Isabelle…” lanjut James
“Aku minta maaf kalau kamu
membenci kejutan ini. Aku hanya berusaha untuk membuatmu senang dan tersenyum”
ia menggenggam tanganku, kemudian pergi berlalu.
Mungkin ini kali pertama aku merasa kemarahanku diluar
batas, maksudku, sebenarnya tak salah sepenuhnya seseorang memberiku bunga.
Meski aku sangat risih.
Kulihat punggungnya dari kejauhan, aku berharap ia kembali,
namun nyatanya tidak.
Ting! Tiba-tiba 1
pesan masuk dari James esoknya
Hai, Isabelle.
Wanita cantik berhati
dingin. Aku harap kali ini kamu tidak marah-marah lagi ya hahaha. Lapar? Aku
tunggu sepulang kampus di Varome Café ya.
See you!
See you!
Tak seperti biasanya aku senang seperti ini, tidak senang
juga sih. Tapi aku bersyukur James tak hilang akibat tragedi bunga matahari kemarin.
Tapi aku harus ke Gym untuk kardio baru pergi ke Café menemui James. Bagiku
tubuh harus langsing dan bugar, aku juga melakukan bench press dan squat.
Aku menikmati kegiatanku hingga tak terasa sudah pukul 5 sore, aku berganti baju dan segera
menemui James.
“Hai, Isabelle! Akhirnya nya sampai juga. Apa ada masalah
diperjalanan?” ia melambaikan tangannya sembari memanggilku.
“Kau menungguku?”
“Yaa, sejak sepulang kampus tentu saja” James berkata sambil
tersenyum.
Jadi, dia menungguku? Aku pun tak tahu harus berucap apa.
Maaf kah? Aku tak pernah makan dan berkencan sebelumnya, aku hanya bingung
harus melakukan apa. Karena kegiatanku setelah kampus… ya pergi ke Gym.
“Ah iya… Bell, aku sungguh minta maaf atas kejadian kemarin.
Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Sungguh aku hanya ingin membuatmu
bahagia dengan bunga itu. Tapi tolong, jangan marah dan tetaplah bersamaku”
James memohon, tatapannya pun tulus.
“Ya… maafkan aku juga” bibir ini dengan berat hati berkata
demikian, tapi entah mengapa semua bebanku terlepas. Ucapan maaf adalah obatnya.
“Hahaha!”
“Loh, kenapa?” aku bingung
“Ternyata orang seperti kamu bisa minta maaf juga yaa. Ajaib ya?" James meledek
Aku pun tertawa untuk pertama kali setelah sekian lama. Lama
sekali. Ya, James berhasil membuatku tertawa. Kami pun tertawa bersama pada senja
itu. Lalu pergi ke Taman Lampion. Lokasinya tak jauh dari Varome Café. Lampion
dan berbagai lampu kerlap-kerlip cantik menghiasi taman, cerah seperti
senyumanku malam itu. James menggenggam tanganku untuk pertama kalinya, dan ya,
aku tidak menepisnya. Kami duduk di bangku taman di depan air mancur.
“Isabelle, terima kasih untuk hari ini. Aku bangga kau
banyak berubah. Kau belajar tersenyum dariku ya? Hahaha” seperti biasa James
memulai percakapan
“Aku bisa tersenyum. Jika bersamamu” astaga aku refleks mengucap ini. Aneh.
“Hah, apa? Aku salah dengar ya?? Kamu bisa gombal juga ya”
kami pun tertawa bersama.
Berbincang-bincang mengenai kampus dan kehidupan dengan
James terasa nyaman. Sejak saat itu aku dapat tersenyum berkat James. Hidupku
tak seperti biasanya. Sekarang aku memahami betapa bahagianya hidup penuh
ceria, pantas saja James dikelilingi banyak teman.
*
Kami berkencan lagi ke bioskop premiere, film yang kutunggu
akhirnya tayang. James terlihat tampan dengan mengenakan kemeja biru nya. Setelah memesan
popcorn kami masuk ke dalam bioskop. Film genre romance berdurasi 90 menit diiringi
lagu-lagu cinta membuat kami terbawa suasana romantis. Ia mendekapku dan
mengusap rambutku.
“Aku tak nyaman” ucapku tiba-tiba, aku yang pada dasarnya
dingin tak terbiasa dengan ini
“Oh, maaf…” ia menyingkirkan tangannya
Setelah film selesai James hendak mengantarkanku pulang
dengan Benz putih kesayangannya.
“Isabelle, aku punya sesuatu untukmu” ia mengeluarkan bucket
mawar merah dengan pita putih cantik yang merangkainya menjadi satu.
“Ahh astaga terimakasih, James. Kau bai….” Tu…tunggu!!!
Aku sangat terkejut tiba-tiba James menarik kedua tanganku
dan hendak mencium bibirku.
Aku menepisnya dan,
Aku menepisnya dan,
Plak!
Aku refleks menampar pipinya. Entah apa yang kulakukan saat
itu, bahkan aku pun terkejut mengapa bisa tanganku menamparnya. Tapi aku
menilai, ini tidak sopan dan terlalu cepat. Kulihat wajahnya menunduk
“James kamu ngapain sih?!” aku keluar mobil dan hendak
pulang naik taxi. Kuharap ia mengejarku, namun tidak, ia terdiam tak
menyangka tangan ini mendarat di pipinya. Jauh di lubuk hati ini, aku merasa
bersalah namun tak sepenuhnya benar juga. James bukan kekasihku, sebuah ciuman
terlalu cepat untuk teman seperti kita.
U h t c e a r e
Aku masih tidak menyangka selama ini kami berteman baik, dan tiba-tiba ia hendak menciumku tanpa permisi. Apakah pantas? Apakah ia orang yang layak mendapatkan sebuah kecupan dariku? Aku memupuk keinginan untuk menghubunginya. Dengan demikian ia tak menghubungiku sama sekali, bahkan sekedar menanyakan kabar pun tidak. Ku lalui hari-hariku seperti biasa tanpa senyuman James. Perlahan gejolak kesedihan dapat kurasakan, terlebih setitik kekosongan...
Hatiku hancur. James menghilang dari hadapanku. Bahkan aku
tak sempat mengucapkan terima kasih karena telah mengubah hari-hari kelamku. Tak
ada lagi James sejak saat itu. Tak ada coklat, bunga matahari, sepucuk surat,
bahkan senyumannya. Aku kehilangan James. Aku yang berhati dingin tak kuasa
menahan tangis, aku menangis sejadi-jadinya dibalik pintu kamarku. Aku merasakan
kehilangan yang amat sangat. 8 bulan ia menjadi sahabatku, dan kini hilang
begitu saja. Sekarang aku menyadari ia berharga bagiku…
Aku memandangi bunga matahari yang pernah ia berikan,
terlarut dalam kehilangan dan menghadapi kenyataan bahwa sinar matahari itu
telah mencairkan sebongkah hati yang beku. Perlahan aku belajar untuk tersenyum, agar selalu kuingat James telah mengajarkan hal ini. Bahkan aku sudah mampu tertawa dan membuat lelucon di depan teman-teman.
“James, aku cinta padamu…”
The frozen heart has been melted.
And the frozen heart beating again. The burning sun did it.
Aku menjalani hari-hari biasa dengan senyum dan tawa,
seperti yang James telah ajarkan padaku. Sudah 2 bulan sejak tragedi itu dan tentu hatiku
masih ada padanya. James adalah sosok yang mengubahku menjadi seseorang yang penuh senyum dan berbahagia kembali.
Sore itu tiba-tiba adik ku masuk ke kamar,
“Bell, ada surat untukmu”
“Dari siapa?”
"Tulisannya berinisial J. Ah, ada bunga matahari juga"
- FIN -
7.18



0 komentar:
Post a Comment